Minggu, 07 Juni 2020

INSPIRASI


Seperti sebuah kebetulan bila aku selalu mendapati meja itu kosong. Mungkin lantaran terlalu dekat dengan badan jalan atau lahan parkir dimana banyak kendaraan berlalu lalang, sehingga debu atau kepul asap bisa saja mengusik nikmatnya mengunyah jajanan.

Hanya aku, double cheeseburger, dan segelas sundae coklat yang sore ini begitu akrab menatap kehidupan yang bergerak di jalan. Menikmati sudut kota yang egois.

Hmmh, sejenak aku teringat. Sudah beberapa minggu terlewat, dan tak ada lagi tulisan baru di blog yang kubuat. Benarkah lantaran kesibukan yang padat, atau memang sungguh-sungguh tak sempat? Aku tersenyum masgyul, saat pikiran naif yang muncul. Bisa jadi memang rasa penat yang menjadi alasan kuat, mengapa celotehku tak lagi tersurat. Atau, mungkinkah sudah tak ada lagi hasrat?

Ponsel di saku celana jeansku bergetar. Sebatang sigaret yang tadinya siap kusulut, kukembalikan ke kotaknya. Ya, tadinya. Sebab tiba-tiba saja aku merasa bahwa mungkin dengan kepulan asap rokok bisa saja kutemui sebuah inspirasi.

Inspirasi? Haruskah ia kutemui dengan membiarkan nikotin terus mengoyak paru-paruku yang kian ringkih? Aku tersadar sendiri. Tidak, kali ini jangan lagi dengan kepulan asap rokok seperti biasa.

Ibu jariku membuka pesan singkat yang muncul di layar ponsel. Hei, lg ngapain? Aku mampir lg di blog kamu. Blm ada yg baru. Knp? Msh sibuk? Atau, blm ketemu inspirasi ya? Ia teman baru ku, seorang teman yang sangat senang membaca celotehku, aku kenal dia di blogku. Aku tercengang, dan terbawa pada pikiranku yang mengepakkan sayapnya lebar-lebar untuk terbang.... Melayang....

.......................

"Kamu salah, Rhe. Banyak cara lain yang bisa kamu lakukan seperti yang sudah kamu lakukan selama ini. Tapi please, aku mohon jangan lakukan seperti yang kamu ingini sekarang ini." pintanya.

"Maksud kamu?" tanyaku memojokan..

"Ya, lakukan cara seperti yang biasanya kamu inginkan saat memulai sebuah tulisan. Seperti saat kamu berkubang dalam perasaan jatuh cinta yang begitu meraja. Atau seperti saat kamu menemukan falsafah ringan di tengah kemacetan jalan. Atau mungkin hanya sekedar celoteh ringan yang lahir dari keinginan kamu yang berharap dunia sekitar bersikap dan berpikir lebih bijak."

Aku menghela nafas. Berharap di benakku tertata kalimat pembelaan. Namun lidah terasa gamang untuk lantang berbincang. Perlahan pasir waktu menguburku dalam diam.

"Jadi aku salah bila ingin menjadikan seseorang tersebut sebagai satu-satunya sumber inspirasi?" tanyaku lirih.

"Dia, atau siapapun. Jawabannya adalah ya." sahutnya tegas.

"Alasannya?"

"Rhe, kamu tahu sebuah alasan, seperti ketika kamu ingin memulai sebuah tulisan. Coba pikirkan, dan renungkan." ajaknya.

Aku kembali terdiam. Bahkan seperti tak lagi mampu menyusun kata.


Pikiranku sejenak terayun dalam biduk kebimbangan. Bisa jadi benar apa yang dikatakannya. Bila semua inspirasiku hanyalah bersumber tentang seseorang, betapa terbatasnya bilangan kata yang mampu kuungkapkan? Lalu ada berapa banyak kisah yang mampu kubingkai dengannya?

Sungguh. Selama ini aku selalu percaya pada kepak sayap imajinasiku. Ia pula yang membawaku untuk hinggap di mana aku bisa menemukan inspirasi. Inspirasi yang kemudian tumbuh dan memekar di benak. Lantas menuntun jemariku untuk mengungkapkannya. Terlepas apakah itu memang kisah keseharian yang kualami dan sungguh terjadi ataukah hanya semata lahir dari rahim imajinasi.


Hei, mengapa tidak kembali kudekap imajinasi dan membiarkan diriku untuk mengangkasa lagi bersamanya? Tiba-tiba saja aku merasa ingin tertawa terbahak. Bibirku perlahan lebar terkuak. Aku tergelak.

..........................................

Aku tersadar dan sesaat merasa kikuk. Beberapa orang menoleh dan memandang dengan tatapan aneh. Astaga, rupanya aku tadi sungguh-sungguh tertawa keras! batinku. Dengan gegas kulahap separuh burger yang tersisa. Sore ini, mentari tampak bersinar lebih jingga dari sore kemarin. Duh, tiba-tiba aku merasa kangen untuk kembali menulis di blogku!

Rheo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Most Viewed