
aku terbaring dalam awangan, terjebak ambigu. sesakku mencari jawaban dari sekian laksa lembaran tanya yang biru yang kudapat dari langit-langit dirimu. sekejap hanya lirih membuih, mengajakku tenggelam dan menyepi di sudut mimpi sendirian.
seketika hadirku menjadi basi, sekedar teori, sekedar wadah raungan dalam gorong-gorong gelap dan kosong. kata-kata bertalu-talu, memukuli hati yang terlanjur pedih berdarah tapi tak sempat menetes karena ucap telah menjadi raja dan diamku menghamba.
lutut ini lebam sudah, sebulan sudah merangkak di rimba rasa, mencoba memasang-masangkan bait demi bait yang kau tumpahkan di perjalanan. menjadi puisi. menjadi arti.
tanda-tanda di garis jalan, terlukis pada tapak-tapak aus yang tak pernah berhenti menjemput mimpi. aku berhenti pada tepian bersama tubuhku yang telanjang, menerjang semburan liur jaman. malam mulai retak, melangutkan resah dalam partikel-partikelnya yang renggang menjadi dongeng pengantar tidur tunas-tunas lembut di atas tanah basah.
aku di tepian, merentangkan tanganku membentuk buaian hingga pagi membunuh bulan.
Mungkin ... ada yang tak akan pernah bersatu.... kau dan aku. sejarah telah menatahnya di atas relief batu, membekukan rindu. dalam rongga-rongga itu pernah kudengar suara, seperti bercerita, akan cinta yang alkisah dan jiwa-jiwa yang terpisah. andai bisa kurenggut waktu, kan kujadikan ia sebuah realita sederhana dan kupersembahkan untukmu semata.
aku mengenalmu ketika daun gugur di kakimu. desau membawa cerita cemara pada lontar tentang sebuah pertemuan yang terhelat di bawah gemerlap senja ungu. aku menemuimu saat awan gugur di kuil kuil kita, membawa lirih puisi dalam genggammu, dalam gerammu. aku berdiri di belakang palang igamu saat kau menjauhi pantai, menjauhi detak dan gigil merutuki bahteraku hingga karam.... karam.....
[semua ini masih berlanjut...]
Rheo
Tidak ada komentar:
Komentar baru tidak diizinkan.