Memunguti Inspirasi dari Kepedihan Hati
Eric Clapton melahirkan lagu Tears in Heaven beberapa jam setelah Conor, anaknya yang baru berumur 4,5 tahun, tewas karena terjatuh dari jendela lantai 53 sebuah apartemen di New York, ke atap bangunan berlantai 4 di sebelahnya pada 1991.
Dave Mustaine, gitaris merangkap vokalis Megadeth menulis lagu In My Darkest Hour di album So Far, So Good... So What! (1988) guna mengenang sahabatnya Cliff Burton, bassis kelompok Metallica yang tewas karena kecelakaan bus yang tergelincir akibat jalanan bersalju dekat kota Ljungby, Swedia saat Metallica mengadakan tur ke Eropa tahun 1986.
Yok Koeswoyo, bassis Koes Plus, membuat lagu berjudul Maria untuk mengenang mendiang istrinya yang tewas dalam sebuah kecelakaan lalulintas. Yok selamat, namun istrinya meregang nyawa. Ironisnya, suami istri itu sedang bertengkar saat kecelakaan terjadi (perhatikan lirik "senja itu aku pergi bersamamu, tiada senyuman kau berikan padaku").
Bebi Romeo mengukir lagu Bunga Terakhir yang kord-nya sangat berat itu ketika ia ditinggalkan kekasih hati,Meisya Siregar. Tak tahunya, beberapa waktu silam Meisya malah kembali ke dekapan Bebi dengan status janda.
Kepedihan tak jarang adalah butiran mutiara. Sakit hati, ngilu di dada, rasa sedih berkepanjangan, seringkali menitiskan inspirasi.
Menikmati kegelisahan dan menjadikannya cambuk alami bagi proses kreatif, bukan pekerjaan gampang lantaran membutuhkan sikap batin yang kuat. Apakah saya termasuk yang punya pertahanan kuat ketika jiwa sedang gundah gulana.
Entahlah ...
Rheo
